BANJARMASIN, 25 September 2026 – Rumah produksi Kaya Film kembali menghadirkan karya terbaru melalui film pendek berjudul “RASI: Arah Pulang”, sebuah drama petualangan yang mengangkat kekayaan budaya masyarakat pesisir Kalimantan Selatan, tradisi bahari, persahabatan, serta pengetahuan navigasi tradisional berbasis astronomi.
Disutradarai oleh Muhammad Randy, “RASI: Arah Pulang” membawa penonton mengikuti perjalanan tiga pemuda di tengah laut yang harus menghadapi situasi tidak terduga. Di balik kisah petualangannya, film ini turut menggambarkan hubungan erat masyarakat pesisir dengan alam serta pentingnya menjaga pengetahuan dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Film ini merupakan salah satu dari lima naskah terpilih dalam program Banua Film Fund 2026, yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Forum Sineas Banua.
Cerita berpusat pada tiga pemuda, Rasi, Baco, dan Amin, yang mendapat amanah dari tetua desa, Daeng Makulasse, untuk melaksanakan Massalama Ritasi’e, sebuah ritual adat sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan masyarakat kepada laut.
Usai melaksanakan ritual tersebut, ketiganya memulai perjalanan pulang menggunakan perahu milik Baco. Namun, perjalanan yang semula berlangsung tenang berubah menjadi perjuangan ketika badai tiba-tiba menerjang.

Awan hitam menutupi langit, gelombang semakin kuat, sementara kompas yang menjadi petunjuk arah mereka terjatuh ke dasar laut. Dalam kondisi tersebut, ketiganya harus mengandalkan keberanian, kebersamaan, serta pengetahuan tradisional untuk menemukan kembali arah pulang.
Proses produksi film mengambil latar di Kampung Nelayan, Desa Sarang Tiung, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, kawasan pesisir yang memiliki kekayaan budaya bahari dan menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer cerita.
Dengan durasi sekitar 15 menit, “RASI: Arah Pulang” tidak hanya menawarkan drama dan petualangan, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga warisan budaya, memahami kearifan lokal dalam membaca tanda-tanda alam, serta memperkuat nilai persahabatan dan kebersamaan dalam menghadapi situasi sulit.
Produser “RASI: Arah Pulang”, Achmad Rifad, mengatakan film tersebut diharapkan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya pesisir Kalimantan Selatan kepada khalayak yang lebih luas.
“Melalui ‘RASI: Arah Pulang’, kami ingin memperkenalkan tradisi Massalama Ritasi’e sekaligus mengangkat pengetahuan navigasi astronomi tradisional yang menjadi bagian dari kearifan masyarakat pesisir. Kami juga ingin menghadirkan wajah budaya pesisir Kalimantan Selatan yang masih jarang mendapatkan ruang dalam karya film,” ujar Achmad Rifad.
Menurutnya, pendekatan film dipilih agar nilai budaya tidak hanya didokumentasikan, tetapi juga dapat disampaikan melalui cerita yang dekat dan menarik, khususnya bagi generasi muda.
“Harapannya, film ini tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga dapat membuka rasa ingin tahu generasi muda terhadap tradisi, pengetahuan lokal, dan kekayaan budaya bahari yang kita miliki,” tambahnya.
Mengusung genre drama, fiksi, dan petualangan, “RASI: Arah Pulang” dijadwalkan tayang pada awal November 2026 di Kota Cinema Mall Banjarmasin.
Melalui karya ini, Kaya Film berharap cerita dari pesisir Kalimantan Selatan dapat memperoleh ruang yang semakin luas dalam perfilman sekaligus menjadi bagian dari upaya mengenalkan dan menjaga kekayaan budaya Banua melalui medium audio visual.