PRADIPA MEDIA, BANJARMASIN – Kuliner tradisional Banjar merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu terus diwariskan kepada generasi penerus. Di tengah pesatnya perkembangan gaya hidup dan tren kuliner modern, berbagai pihak didorong untuk menghadirkan inovasi agar makanan khas Banjar semakin dekat dan diminati kalangan muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
Pengamat pariwisata Kalimantan Selatan, Ir. H. Khuzaimi, menilai perubahan preferensi kuliner di kalangan generasi muda merupakan hal yang wajar seiring berkembangnya zaman. Karena itu, upaya pelestarian kuliner tidak cukup hanya mengandalkan tradisi, tetapi perlu disertai pendekatan yang lebih kreatif, edukatif, dan relevan dengan kehidupan anak muda.
“Yang kita hadapi bukan sekadar perubahan selera makan, tetapi perubahan cara generasi muda berinteraksi dengan budaya. Kuliner adalah bagian dari warisan budaya yang perlu dikenalkan dengan cara yang sesuai perkembangan zaman,” ujarnya kepada Kalimantan Post.

Menurut pria yang akrab disapa Jimy itu, ada sejumlah tantangan yang membuat kuliner Banjar belum sepenuhnya menjadi pilihan utama generasi muda. Salah satunya adalah tampilan dan penyajian makanan tradisional yang masih dapat dikembangkan agar lebih menarik, tanpa mengurangi cita rasa maupun keasliannya.
Ia menjelaskan, bagi Gen Z, makanan tidak hanya dinikmati, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman yang dibagikan melalui media sosial. Karena itu, inovasi dalam penyajian, kemasan, hingga promosi digital menjadi peluang untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Banjar.
Selain itu, kebiasaan menikmati makanan tradisional di lingkungan keluarga juga mulai berkurang. Kesibukan masyarakat membuat menu praktis dan cepat saji semakin sering hadir di meja makan, sehingga anak-anak tidak lagi akrab dengan Soto Banjar, Ketupat Banjar, Lontong Banjar, maupun ragam kuliner khas lainnya.
Menurut Jimy, kondisi tersebut bukan berarti generasi muda tidak mencintai kuliner daerah, melainkan mereka membutuhkan ruang untuk mengenal, merasakan, dan memahami nilai yang terkandung di balik setiap sajian tradisional.
“Kalau sejak kecil anak-anak diperkenalkan dengan kuliner daerah, mereka akan tumbuh dengan rasa memiliki. Karena itu, keluarga memiliki peran penting sebagai ruang pertama memperkenalkan kekayaan budaya melalui makanan,” katanya.
Ia juga menilai promosi kuliner Banjar perlu lebih aktif memanfaatkan media digital. Kehadiran konten kreatif di berbagai platform media sosial dinilai akan membantu memperluas jangkauan promosi sekaligus membangun kebanggaan terhadap kuliner lokal di kalangan generasi muda.
Lebih dari sekadar makanan, lanjutnya, Soto Banjar, Ketupat Banjar, Lontong Banjar, dan aneka kuliner khas lainnya menyimpan sejarah, filosofi, serta kearifan lokal yang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Banjar.
Karena itu, Jimy mengajak pemerintah daerah, sekolah, keluarga, pelaku UMKM, komunitas, media, hingga kreator konten untuk membangun ekosistem pelestarian kuliner secara bersama-sama.
Sejumlah gagasan yang diusulkannya antara lain pembentukan Duta Kuliner Kota Banjarmasin, melibatkan Nanang Galuh Banjar sebagai duta kampanye Bangga Kuliner Banjar, menghadirkan program Kuliner Banjar Goes to School, hingga menggelar lomba vlog, fotografi, dan konten digital bertema kuliner lokal.
Di sisi lain, pembinaan UMKM kuliner juga dinilai penting agar pelaku usaha mampu berinovasi dalam penyajian, pemasaran, dan pelayanan, tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang menjadi kekuatan utama kuliner Banjar.
Jimy juga mengusulkan pendekatan diplomasi budaya melalui penggunaan istilah lokal dalam berbagai publikasi. Menurutnya, nama-nama khas Banjar sebaiknya tetap dipertahankan dengan disandingkan istilah yang lebih umum agar masyarakat luas semakin mengenal kekayaan bahasa dan budaya Banjar.
Sebagai contoh, istilah jaring, sebutan masyarakat Banjar untuk jengkol, dapat tetap digunakan dalam berbagai narasi promosi. Menariknya, kata serupa juga dikenal di Brunei Darussalam sebagai jering, yang menunjukkan kedekatan budaya masyarakat serumpun di kawasan Borneo.
“Melalui narasi yang baik, kita bukan hanya memperkenalkan makanan, tetapi juga memperkenalkan identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Banjar. Kuliner dapat menjadi media diplomasi budaya yang efektif apabila dikemas secara kreatif dan berkelanjutan,” pungkasnya.(NN)